Rabu, 15 Juni 2011

Pendidikan Bagi Individu Autistik



 
PENDIDIKAN BAGI INDIVIDU AUTISTIK
19.09.2005

Dyah Puspita, Psikolog


I.       PENDIDIKAN BAGI INDIVIDU AUTISTIK

Fakta bahwa individu-individu ASD belajar secara berbeda karena perbedaan neurobiologis bawaan mereka memberikan dampak pada tiga hal (Siegel, 1996):

1.      Belajar menjadi tugas yang lebih berat bagi individu ASD
2.      Individu ASD harus diajarkan dalam gaya yang ‘khusus’ bagi setiap individu, agar mereka bisa memahami materi dengan baik. Berarti, stimulus disampaikan dalam bentuk atau cara yang khusus
3.      Bila intervensi dilakukan lebih dini, maka perjuangan untuk mengajar individu-individu ini diharapkan akan lebih mudah karena mereka sudah lebih tertata (tidak terlalu tantrum atau berperilaku negatif lainnya)

Intervensi dini menjadi satu langkah yang penting, dan salah satu teknik/metode yang banyak digunakan adalah Applied Behavioral Analysis yang ditemukan oleh Ivar O. Lovaas (Maurice, 1996). Penanganan intervensi dini menggunakan teknik ‘one-on-one’ atau satu guru satu anak, yang sangat intensif dan terfokus dengan kurikulum yang sangat terstruktur.

Komponen ‘one-on-one’ ini menjadi penting artinya pada proses belajar awal, terutama bagi anak-anak yang masih rendah tingkat kepatuhan dan imitasi-nya. (Siegel, 1996). Intensitas (jumlah jam per minggu) juga sangat penting, seperti yang dilaporkan oleh hasil penelitian Lovaas (Lovaas, 1981). Kecenderungan orang tua untuk panik dan mengharapkan hasil terbaik membuat mereka menjadwalkan penanganan intensif terstruktur tanpa melihat pengaruhnya pada anak. Akibatnya, anak menjadi tertekan dan bingung, apalagi bila di luar penanganan terstruktur tersebut tidak ada bentuk penanganan lain yang lebih alami sementara penanganan (terapi) yang ia terima dilakukan secara kaku. Itu sebabnya, Greenspan (1998) mengusulkan adanya usaha orang tua meluangkan waktu bersama anak dalam bentuk kegiatan tidak berstruktur tetapi alami.

Ada beberapa kemungkinan yang dapat ditempuh oleh anak ASD dalam jalur pendidikan. Penetapan akan menempuh jalur yang mana sangat dipenuhi oleh berbagai aspek, antara lain: banyaknya gejala autisme pada anak, daya tangkap, kemampuan berkomunikasi, usia dan harapan (atau tuntutan) orang tua.

Alternatif pilihan bentuk pendidikan yang berlaku di Amerika Serikat, antara lain terbagi atas jalur pendidikan khusus  (Siegel, 1996):

1.      Individual Therapy,
antara lain melalui penanganan di tempat terapi atau di rumah (home-based therapy dan kemudian homeschooling).
Intervensi seperti ini merupakan dasar dari pendidikan individu ASD. Melalui penanganan one-on-one, anak belajar berbagai konsep dasar dan belajar mengembangkan sikap mengikuti aturan yang ia perlukan untuk berbaur di masyarakat.   
2.      Designated Autistic Classes
Salah satu bentuk transisi dari penanganan individual ke bentuk kelas klasikal, dimana sekelompok anak yang semuanya autistik, belajar bersama-sama mengikuti jenis instruksi yang khas. Anak-anak ini berada dalam kelompok yang kecil (1-3 anak), dan biasanya merupakan anak-anak yang masih kecil yang belum mampu imitasi dengan baik.
3.      Ability Grouped Classes.
Anak-anak yang sudah dapat melakukan imitasi, sudah tidak terlalu memerlukan penanganan one-on-one untuk meningkatkan kepatuhan, sudah ada respons terhadap pujian, dan ada minat terhadap alat permainan; memerlukan jenis lingkungan yang menyediakan teman sebaya yang secara sosial lebih baik meski juga memiliki masalah perkembangan bahasa.
4.      Social Skills Development and Mixed Disability Classes
Kelas ini terdiri atas anak dengan kebutuhan khusus, tetapi tidak melulu autistik. Biasanya, anak autistik berespons dengan baik bila dikelompokkan dengan anak-anak Down Syndrome yang cenderung memiliki ciri ‘hyper-social’ (ketertarikan berlebihan untuk membina hubungan sosial dengan orang lain). Ciri ini membuat mereka cenderung bertahan, memerintah, dan berlari-lari di sekitar anak autis sekedar untuk mendapatkan respons. Hal ini baik sekali bagi si anak autis.

dan jalur pendidikan umum (mainstream atau inclusion).

Maksud kata ‘mainstream’ berarti melibatkan seorang anak dengan kebutuhan khusus ke dalam kelas-kelas umum. Penanganan anak sungguh-sungguh dilakukan tanpa adanya perhatian pada kebutuhan khusus yang ada pada anak. Padahal, sebetulnya anak memang memiliki kebutuhan khusus.

Istilah inklusi sebaliknya adalah menggambarkan keadaan dimana individu autistik dilibatkan dalam kegiatan sekolah reguler, dengan kemungkinan: dengan atau tanpa pendamping. Pada umumnya sekolah inklusi menyediakan jasa pembelajaran khusus bagi anak-anak autistik dimana mereka kemudian ditarik untuk belajar di ruangan terpisah bilamana mereka mengalami hambatan mengikuti pelajaran di kelas. Itu sebabnya, ada istilah full inclusion bagi anak-anak yang mengikuti semua pelajaran (dengan pendamping sesuai keperluan) dan dengan bantuan remedial teaching. Serta ada istilah partial inclusion bagi mereka yang hanya mengikuti pelajaran untuk memperoleh sebagian keuntungannya saja. Misal, orangtua yang memasukkan anaknya untuk tujuan sosialisasi di sekolah reguler.


II.      BENTUK SEKOLAH IDEAL

Greenspan (1998) dalam bukunya The Child with Special Needs mengungkapkan bahwa untuk memungkinkan anak belajar berinteraksi, penting sekali membaurkan anak berkebutuhan khusus dengan anak lain yang tidak bermasalah.

Guna memungkinkan terjadinya proses belajar yang optimal, adalah ideal bila sekolah tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut:

·   Terdapat pendekatan yang mengacu pada tahap perkembangan dan perbedaan individu; yang mendorong terjadinya kemajuan perkembangan dalam hal perhatian yang sama, keterlibatan dan interaksi timbal balik.
·   Adanya guru-guru yang tahu bagaimana mengupayakan terjadinya hubungan dengan anak yang mengalami keterlambatan perkembangan.
·   Adanya guru-guru yang peka terhadap perbedaan individu dan menghargai strategi tiap anak dalam menenangkan dirinya sendiri.
·   Terdiri atas kelompok-kelompok kecil yang dipimpin oleh orang dewasa.
·   Lingkungan yang menyediakan atau memberikan kesempatan setiap anak memiliki guru pendamping untuk bekerja secara individu dengan anak.
·   Kebijakan yang mendorong keterlibatan orang tua dalam proses belajar mengajar secara keseluruhan.
·   Keterbukaan akan saran dari orang tua.
·   Pengaturan yang membaurkan anak berkebutuhan khusus dengan anak lain yang tidak memiliki kebutuhan khusus.

Karakteristik tersebut di atas tentu sulit diterapkan secara sekaligus dan seketika. Namun, bila memang sekolah didirikan untuk “mendidik” anak…  kita perlu mengupayakan agar setidaknya situasi pendidikan di Indonesia mendekati bentuk ideal tersebut sehingga pendidikan tidak diperuntukkan bagi anak yang “sempurna” saja seperti yang terjadi saat ini.


III.          PERSIAPAN YANG SEBAIKNYA DIJALANKAN

Berdasarkan uraian di atas, tentu saja kita harus menarik satu kesimpulan: ada jenjang persiapan yang harus dijalani sebelum anak dengan gangguan perkembangan autisme ini dimasukkan ke dalam lingkungan sekolah umum.

Persiapan tersebut perlu dijalani oleh berbagai pihak yang terlibat: anak, sekolah dan orang tua.

*       Anak: dua hal penting yang harus dipertimbangkan adalah kesiapan anak untuk belajar dalam kelompok (kecil atau besar, tergantung masing-masing sekolah) dan kesiapan anak mengikuti rutinitas di sekolah (makan bersama, toileting, olah raga, upacara dsb).

Semua pihak perlu mempertimbangkan faktor berikut:

-    Fungsi kognitif
Tingkatan fungsi kognisi, verbal atau non-verbal
-    Bahasa dan komunikasi
Tingkatan pemahaman bahasa (bicara >< tertulis),    tingkatan kemampuan berkomunikasi
-    Kemampuan akademis
Pemahaman konsep bahasa, matematika, kebutuhan akan  bantuan dari orang lain
-    Perilaku di kelas
Kesanggupan mengikuti proses belajar mengajar di kelas  (1:3, 1:8, 1:15, 1:30).
Kesanggupan mengerjakan tugas secara mandiri
Kesanggupan untuk menyesuaikan diri dengan transisi  atau  perubahan di dalam kelas

*       Sekolah:

Saat ini sudah ada beberapa sekolah menerima keberadaan  anak autistik di dalam kelas umum. Tetapi sikap menerima saja tidak cukup bila tidak diikuti dengan beberapa penyesuaian, antara lain:

-    Modifikasi lingkungan: 
Bangunan sekolah, tata-letak di dalam kelas, lingkungan sekitar
-    Pelatihan staf:
Menerima perbedaan anak dan mau belajar lagi
Keterbukaan akan kerja sama dengan pihak lain terkait
Pengetahuan dan ketrampilan untuk membantu tatalaksana  anak autistik
-    Penyuluhan kepada orang tua/anak lain:
Hal ini tidak mudah, karena banyak orang tua   lain beranggapan bahwa sekolah umum seharusnya tidak  menerima anak dengan masalah.  Mereka khawatir sifat autisme  anak akan menular pada anak-anak mereka.
-   Sikap terhadap saudara kandung:
apakah keberadaan saudara sekandung dengan autisme  ini menjadi suatu keuntungan atau kekurangan bagi kakak/adik                                         

*       Orang tua:

Keadaan orang tua sangat menentukan proses belajar mengajar dan pencapaian masing-masing anak. Dalam hal ini, yang penting diperhatikan adalah:

-    Pengharapan keluarga:  Apa yang diharapkan dicapai dari keberadaan anak berada di sekolah: apakah full inclusion atau social mainstream ?
Pengharapan ini sangat menentukan target pendidikan bagi anak di sekolah. Target yang “lepas dari konteks” dalam arti tidak sesuai potensi yang ditampilkan anak (berlebihan), tentu akan membuat siapapun yang terlibat menjadi frustrasi. Anak bahkan bisa tidak suka belajar / sekolah. Sebaliknya, target di bawah kemampuan anak akan membuat ia bosan dan juga tidak suka sekolah.
-    Kebutuhan dari anggota keluarga yang lain:  Anggota keluarga bukan terdiri atas anak autistik ini saja, tetapi tentu saja menyangkut kakak/adik dan orang tua anak. Keterlibatan anak di lingkungan sekolah umum, mau tidak mau akan mempengaruhi kegiatan sehari-hari seluruh keluarga. Anak harus mengerjakan pekerjaan rumah, orang tua harus menunggui, kakak/adik diberi tanggung jawab mengenai kegiatan anak di rumah dan sekolah, dsb.
-    Adanya dukungan lingkungan: Lingkungan disini, termasuk juga orang tua lain di sekolah tersebut (POMG). Bagaimanakah sikap mereka, apakah mendukung atau tidak. Bagaimana juga sikap anak lain di sekolah tersebut, apakah menerima keberadaan anak autistik ini atau tidak. Bagaimana sikap guru di luar kelas ini, sikap kepala sekolah dsb.

*       Tenaga profesional terkait:

Adakah tenaga profesional yang dilibatkan dalam tim pendukung anak:

-    Dokter:   Peran dokter disini (dokter anak, psikiater anak, dokter mata, THT, gizi dsb sesuai kebutuhan anak) amat penting karena proses belajar mengajar anak   tidak akan lancar kecuali ia dalam keadaan sehat.
-    Psikolog: Peran psikolog adalah untuk memberikan gambaran profil psikologis anak (psychological profile), sehingga orang tua dan pihak sekolah paham kelebihan dan kekurangan anak secara menyeluruh. Gambaran profil ini dapat membantu semua pihak terkait dalam mengarahkan anak sehingga potensi aktual dapat terealisir secara optimal tanpa membuat anak tertekan.
-    Guru pendamping: Pada umumnya anak autistik memerlukan guru pendamping pada masa awal penyesuaian di lingkungan kelas yang jelas berbeda dengan lingkungan terapi individual. Masalahnya, tidak semua sekolah menyediakan guru pendamping dengan kualifikasi yang jelas, atau tidak semua orang tua bersedia menggunakan guru pendamping yang disediakan pihak sekolah oleh karena berbagai alasan. Guru pendamping juga sering tidak paham sebatas mana mereka diperbolehkan membantu anak. Akibatnya, anak tergantung pada guru pendamping, guru kelas tidak berusaha kenal anak karena anak hampir selalu berada bersama dengan guru pendamping, dan pada akhirnya anak tetap menjadi ‘anak bawang’ karena ia tidak terlalu berbaur dengan lingkungannya.
-    Terapis:  Meskipun sudah bersekolah di sekolah umum, sebagian dari anak autistik masih memerlukan bimbingan khusus di rumah. Tugas ini biasanya dibebankan kepada terapis rumah, yaitu terapis atau guru yang bertugas untuk mengulang materi yang dipelajari di sekolah lengkap dengan generalisasi-nya, mempersiapkan anak akan materi yang akan datang, dan membantu anak mengkompensasi kelemahannya melalui berbagai teknik dan kiat praktis.

Apakah ada kerja sama yang baik antara tenaga profesional dengan sekolah dan keluarga, dalam arti keterbukaan secara profesional demi kemajuan si anak. Adakah bantuan akademis (dalam bentuk sesi khusus atau modifikasi proses), atau kelompok orang tua dengan masalah sama?


PENUTUP:

Penting diingat oleh para orang tua bahwa kondisi masing-masing anak sangat berbeda, sehingga modal awal dan hasil akhir setiap individu akan sangat tergantung pada banyak sekali faktor, antara lain: kuantitas dan kualitas gejala autisme pada anak, intensitas penanganan dini, tingkat inteligensi anak, kemampuan anak berkomunikasi, konsistensi pola asuh dalam keluarga, sikap sekolah dalam membantu anak, pengetahuan guru, dan sebagainya.

Bagi pihak sekolah, penting diperhatikan bahwa banyak langkah yang dapat dilakukan untuk membantu anak ASD berprestasi di lingkungan sekolah reguler. Selain kesempatan, mereka juga memerlukan penanganan yang terpadu dan terfokus sesuai keadaan masing-masing anak.

Pihak keluarga tidak bisa hanya menuntut pihak sekolah untuk memberikan yang terbaik, karena tanpa kerja sama dari pihak keluarga, semua upaya memberikan kesempatan kepada anak menjadi mubazir dan tidak tepat sasaran. Sebaliknya pihak sekolah tidak dapat menyerahkan segala usaha kepada orang tua, karena bagaimanapun anak-anak ASD ini adalah bagian dari masa depan bangsa ini. Sebagai pendidik, sudah sewajarnya kita memberikan yang terbaik kepada anak didik kita. Sebagai pendidik, kita tidak boleh memilih murid.

Mendidik anak tidak bermasalah bisa dilakukan siapa saja, tetapi membantu anak bermasalah – khususnya anak ASD – untuk dapat mengatasi permasalahannya, memerlukan kemampuan yang luar biasa. Kreativitas, daya juang, kemampuan untuk bertahan, dan yang terpenting… keikhlasan untuk membantu anak ASD mendapatkan masa depan yang baik.

Bentuk pendidikan yang ideal bagi individu ASD di Indonesia masih harus diperjuangkan, tapi berbagai perkembangan yang terjadi sekarang sudah cukup melegakan.



REFERENSI

•               Greenspan, Stanley , MD and Serena Wieder, PhD; The Child with Special Needs, 1998 Perseus Publishing, US

•               Lovaas, O.Ivar, PhD; The 'Me' Book -- Teaching Developmentally Disabled Children; 1981, Department of Psychology, University of California, Los Angeles, ProEd Inc-USA.

•               Maurice, Catherine, Gina Green, PhD and Stephen C. Luce, PhD; Behavioral Intervention for Young Children with Autisme, 1996, ProEd Inc-USA.

•               Siegel, Bryna, PhD; The World of the Autistic Child -- Understanding and Treating Autistic Spectrum Disorders, 1996, Oxford University Press - New York, 1996.


*)    Penulis adalah  Sekretaris Yayasan Autisma Indonesia; dan Penanggung Jawab Pendidikan  Sekolah Mandiga, Jakarta
Pemutakhiran Terakhir ( Sabtu, 09 Mei 2009 21:37 )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar